20.4.13

The Ship That Sailed ~ anonymous

Tadi malam, menjelang tidur, tiba-tiba teringat judul sebuah puisi yang pernah gue dedikasikan untuk someone special, not in romantic way..
Untuk beberapa tahun that #1 gue jadikan 'jangkar' biar agak betah nangkring di suatu 'pelabuhan' demi membereskan urusan 'bongkar-muat' ilmu pengetahuan..
Awalnya, #1 tidak tahu menahu (tentu saja, seperti biasanya gue) tapi tidak terganggu (sepertinya, semoga).. Lambat laun #1 akhirnya tau (mungkin 'ngerasa', jadi pasti setelah gue kasih tau) dan tidak keberatan (malah jadi saling 'memanfaatkan' dalam arti positif)..
I have a good time with him.. Dan ketika tiba waktunya untuk 'berlayar mengarungi lautan kehidupan', gue merasa harus berterima kasih atas perannya dan kesediannya.. Pas pula dia akan berulang tahun, so sekalian lah dijadikan kado..
Gue hanya ngasih kado utk orang2 spesial, dan kado itu juga harus spesial.. Puter otak sana sini, keliling-keliling sana sini, ngumpulin ide sana sini, tiba2 out of the blue tampaklah sebuah kapal dalam botol..
Sebelumnya, sudah beberapa kali gue menulis tentang diri gue sebagai kapal.. Dan kapal itu cocok dengan niat dan maksud gue..
Kemudian, ketika sedang membuat kata-kata spesial yang cocok menyertainya (tentu saja kembali memutar otak sana sini dan mencari ide sana sini), gue tertarik dengan sebuah puisi.. Yang nulis anonim.. Beberapa kali disitir para nahkoda (baik kapal beneran maupun 'kapal kehidupan") dalam pidato mereka.. Isi puisi itu sangat pas sehingga gue gak perlu nambahin apa-apa lagi.. What a perfect gift !!!
Setelah bertahun-tahun, gue lupa sama pengalaman ini.. Gue bahkan lupa isi puisinya apa.. Yang gue ingat kesannya.. So, tadi malam begitu mendadak judulnya terlintas dan kenangan itu muncul lagi, gue Googling lah sana sini.. Yang muncul malah yang lain-lain, yang lebih happening.. Setelah beberapa click to open, read, then close in desperation, muncul lah dia mendadak kayak The Flying Dutchman.. Dan aku masih si Kapal... (^_^)

THE SHIP THAT SAILED 

I’d rather be the ship that sails 
And rides the billows wide and free 
Than be the ship that always fails 
To leave its port and go to sea 

I’d rather feel the sting of strife 
Where gales are born and tempests roar 
Than settle down to useless life 
And rot in dry dock on the shore 

I’d rather fight some mighty wave 
With honour in supreme command 
And fill a last well earned grave 
Than die at ease upon the sand 

I’d rather drive where storm winds blow 
And be the ship that always failed 
To make the ports where it would go 
Than be the ship that never sails 

11.4.13

CAREGIVER BURDEN

Salah seorang teman baik berkeluh kesah. Sudah seminggu ini mertuanya sakit berat yang membuat ia dan suaminya selalu stand by menemani dan merawat. Awalnya biasa saja, namun lama kelamaan dia merasa kelelahan fisik dan mental. Ditambah lagi urusan kantor yang jadi kurang fokus dan anak-anak yang mulai protes karena kuantitas dan kualitas perhatian yang berkurang. Namun, untuk sekali-sekali tidak menemani atau merawat dia juga gak nyaman karena khawatir dipandang egois dan tidak sayang mertua oleh saudara-saudara yang lain.

Jadi ingat kalau dulu pernah menangani (dan mengalami) permasalahan sejenis yang menghasilkan tulisan berikut.

(repost from old notes made in 12 July 2009)

Caregiver burden is the term given to perceived distress of someone who have role as caregiver of others. It is non-direct effect of caring itself where helping and assisting ‘patient’ became burden for the caregiver. This involves multidimensional aspects of physical, psychological, emotional, social and financial. When ignored, eventually it will cause caregiver burnout that can be dangerous to the caregiver physical and mental health, furthermore the ‘patient’ her/himself. Caregiver often allocates emotional, physical and time resources to his/her ‘patient’. The more severe ‘patient’s’ condition is, the larger resources will be allocated. Bigger allocation of resources can cause caregiver has no resources to do other things. As a result, caregiver feel trapped in a task such as caring that ‘patient, especially if caregiver may not quite physically and mentally ready for such of task.

Caregiver in general has two types of distress. First, primary distress from the task of caring. It can be from planning and implementation of treatment, giving great attention to ‘patient’, supervise the planned activities, and overcome ‘patient’’s emotional problems. Second, the secondary distress from other sources. It can be conflict between family members regarding the caregiving activities, economic problems, limited spare time and social activities. Caregiver’s full schedule can lead to reduction time to interact with families and social groups that will change her/his pattern of relationships. Changes in the pattern of this relationship can cause conflict and become another burden for the caregiver.

Caregiver can experience decline in her/his mental and physical health, increased anxiety level, emergence of depression, reduced social life, loss of self-esteem and slowly declining performance. From physical and mental health point of view, somatic complaints arise such as digestive trouble, lack of appetite, headaches, exhaustion, body weight decreased / increased, withdraw from social environment, easy feel offended, insomnia, and increase sarcastic and addicted (cigarettes, alcohol, food, etc.) behavior. Caregiver thinking pattern also stick to a particular perspective in which she/he felt have no time and opportunity to reduce her/his stress level or finding help. The professional that experience caregiver burden can develop a sense of failure that threats her/his self-esteem in professional life. This can lead to the change in attitude and behavior in handling next client. This change can be a work-dissatisfaction, cynical, or rejection toward particular client or too involved with a particular client.

There are several ways to reduce the distress experienced during the process of caring, such as develop a sense of humor, changing perspective about how to help, realizing limitations in helping, allocate time to do leisure activities and also have healthy habits. They also must be conscientious to watch over her/his welfare and learn to recognize burden or burnout symptoms. Some other assistance that can be used are:
  1. Counseling
    Counseling can help caregiver to normalized emotion and make sure that she/he already do the best, provide neutral point of view to stimulate insight in exploring alternatives for treatment process that may help reduce burden, and also help to get out from particular thinking pattern that not helping in solving problem.

  2. Additional education
    Caregiver need more knowledge and skills regarding the cases she/he handle in order to make her/him able to design treatment program that less burden and at the same time increase confidence in helping.

  3. Planning
    Caregiver can set up some strategies to be applied in various situations, therefore she/he may feel more stable to control any situation so that may appear.

  4. Self-care
    Caregiver must be able to set time for her/his personal needs, particularly related to health and social life. Caregiver should have a social group to do fun activities.

18.12.12

Teori Segitiga Cinta oleh Sternberg

(repost dari tulisan di FB pada 2 Juli 2009)

Dalam salah satu diskusi dengan MrB, kami berbeda pendapat tentang CINTA
MrB bilang, hanya ada satu makna cinta.. Bagi ku, ada banyak...

Sebagai dosen, spontan aku memberikan ceramah menggunakan teori Sternberg, yang paling sederhana yang dapat aku pikirkan saat ini.. 
Berikut beberapa kutipan tentang Teori Segitiga Cinta yang bersumber dari Wikipedia..

Teori Segitiga Cinta dikembangkan oleh psikolog Robert Sternberg. Teori ini menyatakan cinta dalam konteks hubungan sosial terdiri dari tiga komponen:

  • Keintiman - Yang meliputi perasaan akrab, dekat, keterhubungan dan keterikatan emosi
  • Nafsu - Yang meliputi dorongan untuk berperilaku romantis, daya tarik fisik, dan dorongan seksual
  • Komitmen - Yang meliputi keputusan untuk bersama dan selanjutnya saling berbagi rencana hidup bersama



Kualitas cinta yang dialami dua orang tergantung dari kombinasi ketiga komponen ini. Sebuah hubungan yang berlandaskan satu komponen saja lebih mudah hilang dibandingkan dengan hubungan yang berlandaskan dua atau tiga elemen.



  • Nonlove : ketika ketiga komponen tidak ada.

  • Menyukai / Persahabatan : rasa suka yang mendalam antar dua orang, dimana seseorang memiliki rasa keterikatan, hubungan yang hangat dan dekat dengan orang lain, namun tidak disertai dengan adanya nafsu seksual ataupun komitmen jangka panjang.
  • Infatuated love : merupakan cinta yang murni berdasarkan nafsu seksual. Jika tidak disertai dengan keintiman dan/atau komitmen, maka cinta ini dapat hilang dengan tiba-tiba.
  • Cinta Kosong : dicirikan dengan adanya komitmen untuk  hidup bersama tanpa adanya keintiman dan nafsu seksual. Kadang-kadang, jenis cinta yang lebih kuat jika tidak dijaga dan dipupuk dapat berakhir menjadi  jenis cinta ini.

  • Cinta Romantis : mengikat individu melalui adanya rasa keakraban secara emosi dan fisik, namun tidak harus disertai dengan adanya kesepakatan untuk saling berbagi hidup bersama.
  • Companionate Love : adalah jenis cinta dimana rasa akrab yang dimiliki bersifat emosional dan mendalam namun tidak disertai dengan gairah seksual. Antara individu terjadi kesepakatan untuk bersama-sama dalam jangka waktu panjang. Cinta seperti ini biasanya ditemui dalam hubungan antar anggota keluarga dan teman dekat.
  • Fatous Love : biasanya ditemui dalam hubungan pacaran / pernikahan yang dimotivasi oleh nafsu seksual tanpa mengembangkan rasa keintiman emosi. Ketika gairah seksual menurun, maka individu akan mengalami Cinta Kosong.

  • Cinta Sempurna : bentuk lengkap dari cinta dan merupakan hubungan yang ideal. Cinta jenis ini menghasilkan "pasangan sempurna", dimana pasangan tersebut akan terus memiliki keakraban emosi dan fisik yang memuaskan selama bertahun-tahun kemudian. Akan tetapi, Cinta Sempurna bersifat tidak permanen dan sangat sulit dipertahankan, sehingga pasangan harus terus menerus berusaha menjaga dan memupuknya.


25.11.12

Polemik Angkutan Umum Bandara Polonia Medan

Begitu keluar dari ruang Kedatangan Dalam Negeri
~ Bu... Taksi Bu... Taksi Bandara, Bu...
- Ke Setiabudi, daerah Pajak Pagi, berapa Bang??
~ Ooooh.. Wilayah itu 50.000 aja Bu.. Ibu beli tiket di loket resmi ya Bu..
- Aaaapppaaaaa???? Gak lah Bang.. Kemahalan !!!!

Jalan dikit ke arah gerbang keluar Bandara, 200 mtr lah..
~ Kak, ojek Kak.. Kemana Kak ?? Murah kok Kak..
- Ke Setiabudi, daerah Pajak Pagi, berapa Bang??
~ 35.000 aja ya Kak..
- Nggak lah Bang.. 12.000 !
~ Yah.. Jauh itu Kak.. 25.000 lah ya..
- Nggak Bang.. 12.000 ! *keras kepala*
~ 20.000 lah ya..
- *cuekin sambil terus jalan*

Baru jalan 10 langkah
~ Kemana Kak ?? Naik becak aja.. Murah Kak..
- Ke Setiabudi, daerah Pajak Pagi, berapa Bang??
~ Ooooh... 20.000 ya Kak..
- 15.000 ya Bang..
~ Aduh Kak.. Jauh kali itu..
*cuekin sambil terus jalan, males ngelanjutin*

Nyebrang ke Pom Bensin, Pangkalan Taksi Blue Bird
~ Selamat malam Bu.. Ibu perlu taksi ??
- Iya Pak..
~ Tunggu disini aja Bu, taksi 106 segera datang.. Ke arah mana Bu??
- Ke Setiabudi, daerah Pajak Pagi, Pak..
~ Ini Tiket Pangkalan Bu.. Silahkan disimpan.. Kalau barang Ibu nanti tertinggal, silahkan hubungi kami langsung dan akan kami antarakan..
- Wah, terima kasih Pak..
~ Itu taksi Ibu sudah datang.. Maaf Bu, ada biaya 5.000 untuk jasa Pangkalan..
- Oh, gitu ya Pak.. Baiklah..
*kasih 5.000, masuk taksi, duduk santai, terlindungi dari gerimis yang mendadak turun*

Sampai rumah.. Bayar argo 15.000.. Sudah..

Niat hati ingin memanfaatkan jasa Abang Ojek n Abang Becak yang sering dianggap kelasnya lebih rendah, tapi mereka pasang tarif GILA !!!

Hanya dengan 20.000 plus jalan lebih jauh 100 mtr, bisa dapat pelayanan profesional menyenangkan dan terlindungi..

No Brain Needed !!

3.11.12

Gigiku dicabut !!!


Untuk pertama kalinya seumur hidupku aku membiarkan gigiku dicabut.. Tanpa didampingi si Emak lagi.. Sekarang bibirku kebas setengah.. Luka bekas si gigi tadinya berakar mulai menggatal.. Kapas yg harusnya baru boleh di lepeh setelah 1 jam, sudah ku buang dari tadi-tadi..

Si gigi ini memang sudah sering kali diancam dokter gigi untuk dibuang.. Posisinya miring terdesak gigi-gigi lain..  Si Tulang Dokter Gigi dari aku kecil selalu geleng-geleng kepala kalau  aku cek up.. “Ini anak, mulutnya kecil, giginya besar, sehat-sehat semua lagi !!!” katanya..

Beberapa tahun yang lalu si Emak demam trend meng’kawat-gigi-kan’ anak-anaknya, terutama aku yang katanya punya gigi paling berantakan serumah.. Demi menghindari omelan tak berujung-pangkal, aku bersedia di geret paksa ke praktek si Tulang.. Setelah periksa sana sini, si Tulang kembali ngomel “Ini anak, mulutnya kecil, giginya besar, sehat-sehat semua lagi !!!” katanya.. lagi.. “Kalau mau dikawat, harus ngorbanin 8 gigi ni!!! Tapi cemana la cara buang gigi2 sehat  dan kuat begini.. Susah kali la ni nanti cabutnya..” lanjutnya sambil geleng-geleng kepala.. “DELAPAN???” teriak ku “GAK MAU KALO GITU !!! Biar aja berantakan, tapi gigi ku tetap milik ku..” Setelah itu, aku ngambek ke si Emak karena dia tetep maksa.. “Biar cantik” katanya.. “Ah, gini pun dah cantik kok.. Ampe capek nolak2 yang mo ngedekatin..” lengos ku pergi..

Kenapa DELAPAN ?? Empat geraham depan harus dibuang untuk ngasih tempat ke gigi-gigi seri yang mau dirapikan, termasuk lah si gigi yang barusan dicabut ini memang harus dibuang.. Empat geraham paling belakang harus dikikir untuk jadi tempat sangkutan si kawat.. Padahal, gigi bungsu ku sudah tak ada.. Jauh sebelum dia berhasil tumbuh, pada semester 2 kuliah S1, tiga gigi bungsu harus dioperasi untuk dibuang.. Alasannya?? “Ini anak, mulutnya kecil, giginya besar, sehat-sehat semua lagi !!!” katanya.. lagi.. dan lagi.. “Jadinya, gak ada tempat lagi untuk gigi bungsu mu tumbuh.. Daripada mengganggu gigi-gigi mu yang lain, plus akarnya kesana kemari merusak saraf, buang aja ya..” Aku menurut, dengan syarat si Emak harus ada terus disampingku selama operasi.. AKU TAKUT JARUM SUNTIK dan GAK SUKA RUMAH SAKIT !!!

Dari hasil ronsen ternyata hanya 3 gigi yang terlihat, yang satu gak tumbuh.. Tiga-tiganya langsung di operasi yang menghasilkan pipi tembem ku semakin bengkak selama 2 minggu.. Untungnya operasinya di FKG USU, yang bukan Rumah Sakit.. Trus Dokter yang mengoperasi SANGAT BAIK SEKALI, bapak nya temen SMA ku.. Walhasil, selama operasi berasa tenang, senang, dan jasa dokter jadi gratis.. Wooohhhoooo....

Setelah itu, aku jauh-jauh dari dokter gigi.. Berhasil… Sampai terjadi krisis ekonomi di Depok yang berakibat beras bercampur dengan batu.. Gigi depan ku cowel, terpaksalah mendatangi dokter gigi di Pusat Kesehatan Mahasiswa UI untuk ditambal.. But, that’s it..

Setelah balik lagi ke Medan,aku terpikir untuk agak-agak rajin check up..  Toh, ada Poliklinik USU yang harganya miring..  Awal-awal check up hanya pembersihan karang gigi.. Lama kelamaan, ada beberapa yang berlubang dan perlu ditambal segera.. Masih tidak apa-apa.. Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu si dokter mengubek-ubek si gigi ini dan menemukan lubang yang sulit di tambal karena posisinya yang miring.. Dia menyarankan untuk dicabut aja, walaupun kalau mau mempertahankan masih bisa karena akarnya masih sehat sekali.. Dasar si kepala batu dengan segala harga diri omong kosongnya, aku menolak !! Bertahan sampai tak tahan lagi !!!

Segala urusan kepala batu keras hati pun lenyap ketika minggu lalu gusi ku berdenyut.. Lirik sana sini, senter sana sini, goyang sana sini, yakin lah aku kalau si gigi ini lah yang jadi biang masalah.. Denyut berubah menjadi nyeri berubah menjadi sakit.. Gejala flu yang selama ini mengintai pun gak mau kalah dan mulai cari perhatian dengan radang tenggorokan dan hidung sumbat.. ‘Sialan’, pikir ku.. ‘Selesaikan satu-satu.. Dimulai dari yang paling nyata.. GIGI !!”

Setelah bedrest total 36 jam sampe bosan dan muak, akhirnya ku beranikan ke Poliklinik dan mendaftar untuk mencabut gigi.. Tanpa sepengetahuan Emak.. Tanpa menjerit atau bahkan berkerenyit melihat jarum suntik.. Demi menyelesaikan satu masalah dari bejibun masalah lain dalam hidup ku saat ini.. Dan benar saja.. Si gigi memang biang kerok.. Sudah lah miring, berlubang dalam lagi.. Memang sudah waktunya dia dihilangkan dari hidupku.. Adios, gigi !!

SELESAI !!!


*sambil menulis curhatan gak penting ini, bibirku sudah tidak terlalu kebas lagi.. Lidah ku menjelajah ke bagian gigi yang selama ini tak tersentuh olehnya, terhalangi oleh si gigi miring yang sekarang dah tak ada lagi itu.. sementara aku, menikmati sensasi gatal di bekas luka sambil menghitung berapa lama lagi baru bisa makan.. AKU LAPAR !!!